Mudik Lebaran Dimulai
Tradisi mudik yang dilakukan menjelang lebaran, dipastikan
akan mulai sejak hari ini, Sabtu (2/7/2016). Hal ini seiring dengan berakhirnya
hari kerja bagi PNS dan pegawai swasta. Gelombang pemudik dengan berbagai
kendaraan dari kota-kota besar seperti Jakarta, Tangerang, Karawang, Bekasi dan
Bandung, dipastikan memasuki wilayah Priangan Timur.
Namun sejumlah titik di jalur mudik yang ada di kawasan
Garut dan Tasikmalaya masih terbilang rawan. Hal ini dikarenakan masih
banyaknya sarana penerangan jalan umum (PJU) yang hingga kini masih belum
diperbaiki.
Masih banyaknya PJU yang yang rusak dan belum menyala di
sejumlah titik sepanjang jalur mudik, diakui Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten
Garut, Wahyudijaya. Hal itu tidak hanya terjadi di jalur mudik utama
Limbangan-Malangbong akan tetapi juga di jalur mudik utama Kadungora-Leles.
Diakui Wahyu, selama ini pihaknya telah sering melakukan
koordinasi dengan pihak Dishub Jawa Barat terkait minimnya PJU di jalur mudik
ini. "Kami sudah mengajukan ke provinsi dan jawaban dari sana menyebutkan
pemasangan atau perbaikan PJU akan segera dilakukan," ujar Wahyu.
Hal senada juga dilontarkan KBO Satlantas Polres Garut, Iptu
Zainuri. Menurutnya, lampu penerang di jalur selatan yang melintasi wiayah
Limbangan dan Malangbong Garut memang masih kurang. "Selain itu, ada juga
PJU yang kurang terang. Intinya memang perlu tambahan PJU di beberapa titik,
terutama di tikungan-tikungan jalan," ucap Zainuri.
Selain soal PJU, aktivitas masyarakat di pasar tradisional
baik di jalur Limbangan-Malangbong maupun Kadungora-Leles hingga saat ini masih
menjadi titik hambatan bagi kelancaran arus lalu lintas. Di jalur
Limbangan-Malangbong, arus lalu lintas sempat terhambat oleh aktivitas sekitar
Pasar Limbangan dan Pasar Lewo. Untuk jalur Kadungora-Leles, hambatan terjadi
di depan Pasar Leles. Laju kendaraan berkurang, namun arus lalu lintas masih
terbilang lancar.
Diakui Zainuri, pihaknya telah melakukan berbagai langkah
antisipasi untuk mengatasi terjadinya peningkatan arus kendaraan serta
munculnya hambatan. Salah satunya adalah dengan memasang pembatas di pinggiran
jalan.
Diungkapkannya, pemasangan pembatas sudah dilakukan sejak
Kamis kemarin. Hal ini bertujuan agar pejalan kaki dan aktivitas masyarakat
sekitar pasar tradisional lebih tertib dan tidak tumpah ke jalan raya sehingga
tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Kabag Ops Polres Garut Komisaris Liman Heryawan menerangkan,
idealnya sebelum musim mudik, seluruh fasilitas penunjang kelancaran arus lalu
lintas termasuk PJU sudah siap dan bisa digunakan. Namun pada kenyataannya,
hingga saat ini masih banyak sarana PJU di sejumlah titik yang masih dalam
kondisi rusak sehingga tidak menyala.
"Hasil peninjaun yang telah kita laksanakan, masih ada
beberapa titik di ruas jalan utama yang akan digunakan jalur mudik yang masih
gelap. Hal ini diakibatkan rusaknya sarana PJU yang ada di kawasan tersebut dan
belum diperbaiki," ujar Liman, seusai kegiatan Rakor Lintas Sektoral
Operasi Ramadniya 2016 Dalam Rangka
Pengamanan Idul Fitri 1437 H, di Mapolres Garut, Senin (27/6/2016).
Dikatakan Liman, masih adanya sejumlah kekurangan fasilitas
di jalur mudik tersebut sudah disampaikan langsung oleh Kapolres kepada Bupati
Garut dalam kegiatan rakor. Dalam kesempatan tersebut Kapolres juga meminta
kepada Pemkab Garut melalui Bupati untuk segera memperbaiki PJU yang rusak.
Diharapkan, menjelang arus mudik, semua PJU sudah berfungsi sehingga bisa
mengurangi tingkat kerawanan.
Menurut Liman, dari hasil pemantauan yang telah dilakukan
pihaknya, PJU yang masih belum berfungsi di antaranya terdapat di kawasan
Alun-alun Leles, Tutugan Leles dan sejumlah titik di Limbangan. Hal serupa juga
didapatkan di kawasan jalan alternatif Cijapati, tepatnya di Tanjakan Kopi.
Selain masih banyaknya sarana PJU yang tak berfungsi, diakui
Liman, hingga saat ini pihaknya masih menemukan jalan berlubang di sepanjang
jalur mudik. Kondisi paling parah terdapat di jalur alternatif Cibiuk-Limbangan.
Sedangkan untuk jalur utama selatan yakni Limbangan-Malangbong saat ini
dinilainya sudah cukup bagus.
Sementara itu untuk Jalan Kadungora-Leles, saat ini
kondisinya sudah lebih siap karena sudah mengalami pelebaran. Begitu pun jalan
Jalan Sudirman (Copong) yang menuju Singaparna yang saat ini sudah jauh lebih
baik setelah beres dicor.
Pihaknya, tutur Liman, tak merekomendasikan para pemudik
untuk menggunakan jalur Kamojang. Hal ini dikarenakan kondisi jalan yang
menanjak dan belum tersedianya PJU sehingga bisa menyebabkan kecelakaan. Untuk
jalur Cijapati juga menurutnya tidak jadi prioritas jalur alternatif, kecuali
jalur utama menuju Garut sudah sangat padat.
Jalur Singaparna
Sementara untuk jalur Garut - Tasikmalaya via Singaparna,
polisi telah memetakan sejumlah kerawanan-kerawanan sepanjang jalur mudik
Tanjowaringin - Singaparna - Cikunir (batas kota Tasikmalaya). Selain rawan
kecelakaan lalulintas dan rawan kemacetan, polisi pun memetakan wilayah dengan
potensi kerawanan bencana alam tanah longsor.
Hal ini mengingat hampir sepanjang jalur Salawu memang
dikenal jalur rawan longsor dengan tebing curam di kedua sisi badan jalan.
Jalur inipun kerap disebut jalur ular yang berkelok-kelok dan sangat rawan
kecelakaan.
Disamping itu, yang perlu diwaspadai pemudik yakni hampir
sepanjang jalur alternatif Tanjowaringin - Singaparna dalam kondisi minim
Penerangan Jalan Umum (PJU), sehingga situasi jalan menjadi sangat gelap pada
malam hari.
Kondisi ini tentu membahayakan. Atas hal inilah, polisi
mengimbau kepada pemudik untuk berhati-hati jika melintas di kawasan ini.
Bahkan ada baiknya, pemudik melakukan perjalanan di siang hari. Meski begitu,
polisi telah memasang tanda khusus berupa scotlite berwarna terang di setiap
lokasi jalan berkelok dan gelap.
Bila dipetakan lokasi rawan kecelakaan lalulintas di Jalur
ini yakni mulai memasuki Tanjowaringin, Salawu, Rancamaya dan cinunir.
Sedangkan wilayah rawan macet yakni berada di titik tanjakan bohong Salawu,
alun-alun Singaparna, pertigaan Kudang dan perempatan jalan Muktamar - Cisinga.
"Ada sejumlah kerawanan yakni rawan lakalantas, macet
dan longsor. Khusus untuk rawan longsor kami siagakan satu pleton khusus polisi
siaga bencana yang dibantu juga oleh anggota BPBD Kabupaten Tasikmalaya,"
jelas Nugroho.
Lokasi rawan longsor tersebut yakni berada di wilayah
Kecamatan Salawu, yakni mulai memasuki Tanjowaringin, Tapel kuda, hingga
tanjakan bohong. Selain pasukan siaga bencana, polisi juga menyiagakan alat
berat pengeruk tanah, sehingga ketika terjadi bencana bisa segera ditangani.
Jalur Salawu pun hingga kini masih dalam tahap penyelesaian
badan jalan yang longsor di Desa Kutawaringin. “Sehingga badan jalan hanya
mampu dilalui satu lajur dengan sistem buka tutup,” katanya.***
